Pelestarian Budaya dan Sejarah, Warnai Peringatan Hari Batik Nasional PBI dan YLCC

Nasional792 Dilihat
banner 468x60

PANCORAN MAS – Sebagai wujud implementasi pelestarian budaya bangsa, di momen Hari Batik Nasional (yang diperingati setiap tanggal 2 Oktober), Perempuan Berkeɓaya Indonesia (PBI) Kota Depok berkolaborasi apik dengan
menggandeng Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC) menggelar kegiatan tayang bincang (talk show) dan peragaan busana (fashion show) dengan tema ‘Batik dan Kebaya, Warisan Budaya Identitas Perempuan Indonesia’ di museum YLCC, Jalan Pemuda, No.27, Pancoran Mas , Depok, Sabtu (17/10/2026).

Menurut keterangan Ketua PBI Kota Depok, Maya Aprilia, dipilihnya Museum YLCC sebagai venue kegiatan ini adalah karena Museum YLCC merupakan tempat yang memiliki nilai sejarah yang juga harus dilestarikan.

“PBI menggandeng YLCC dengan tujuan untuk sama-sama menjaga dan melestarikan apa yang menjadi bagian dari sejarah ataupun budaya yang harus dilestarikan,” terang Maya.

Lebih lanjut ia menuturkan bahwa YLCC melalui seorang Cornelis Chastelein, juga memiliki nilai sejarah tentang berdirinya Kota Depok, dan itu tak bisa dipungkiri.

“Kita harusnya bangga, bahwa Kota Depok ini memiliki sebuah Living Heritage yang mana penuh makna sejarah dan nilai edukasi yang harus dibagikan kepada masyarakat, agar masyarakat mengetahuinya. Nah, melalui kegiatan ini adalah salahsatu momen yang tepat,” terangnya.

Tak lupa ia juga memberikan apresiasi kepada seluruh jajaran panitia , yang sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan sebaik-baiknya, juga kepada pihak YLCC yang telah menyambut baik kegiatan ini.

“Jadi seluruh rangkaian kegiatan hari Ini, merupakan kolaborasi yang pas,”ungkap Maya yang tampil anggun menggunakan kebaya dengan kain motif batik bermakna negara maritim dengan perahu berlayar yang merupakan tema hari batik 2026 yaitu ‘Batik Berlayar’.
Kedepannya PBI akan mempersiapkan agenda lanjutan dan akan mengambil tempat di beberapa cagar budaya yang ada di Kota Depok

Ia pun berpesan kepada para perempuan hebat di Kota Depok, agar bisa bersama – sama dengan PBI, dapat menjaga kearifan budaya lokal dengan melestarikan kebaya. “Karena dengan melaui kebaya, itu adalah simbol kecantikan wanita Indonesia yang merupakan ciri khas budaya bangsa,” tutupnya.

PBI Tambah Keluarga di Beberapa Wilayah

Menanggapi terkait kegiatan PIB Kota Depok hari ini, mewakili PIB Pusat, Nuniek Restu Wilujeng, menuturkan bahwa hal ini merupakan langkah bagus bagi PIB Kota Depok itu sendiri.Karena disamping mempopulerkan kebaya dan batik, hal ini sekaligus memperkenalkan cagar budaya yang dimiliki oleh Kota Depok.

“Saya sangat mengapresiasi PBI Kota Depok yang telah mengadakan kegiatan ini dengan menggandeng YLCC. Selain Kebaya dan Batik yang telah diakui UNESCO menjadi warisan budaya tak bergerak, hal ini juga sekaligus mengkampanyekan potensi budaya bersejarah yang ada di Kota Depok. Jadinya bertautan,” Kata Nuniek.

Lebih lanjut kata Nuniek yang juga menjabat sebagi ketua PBI Jakarta, dirinya berharap agar PBI Kota Depok lebih berkembang dan lebih merangkul terhadap generasi-generasi muda baik generasi milenial dan gen-z agar bisa berjalan seiringan menjaga dan melestarikan kebaya yang menjadi ciri khas cantiknya perempuan Indonesia.

Kedepannya, kata Nuniek, PBI Pusat akan melantik dan mendeklarasikan struktural di daerah, diantaranya PBI Blora, PBI Pati, PBI Rembang dan Jepara. PBI juga sudah go internasional dimana saat ini, kepengurusan PBI sudah tersebar di kurang lebih 22 negara, yang tersebar di wilayah Eropa, Amerika, dan Asia.

YLCC Depok Buka Pintu Kolaborasi Pelestarian Budaya dan Sejarah Kepada Semua Pihak

Ketua Umum YLCC Revalino Ishak, memberikan tanggapannya bahwa dirinya menyambut baik dengan terciptanya kolaborasi ini. Ini membuktikan bahwa minat untuk melestarikan budaya tidak hanya dimiliki oleh YLCC.

“Kami dari YLCC sangat menyambut baik bagi lembaga, instansi atau organisasi yang ingin bersama-sama melestarikan nilai sejarah budaya bangsa khususnya sejarah dan budaya yang ada di Kota Depok,” tandasnya.

Tentang kegiatan hari ini, Revalino mengungkapkan bahwa selaras dengan PBI yang harus melestarikan kebaya dan batik sebagai identitas budaya Indonesia, maka YLCC juga melestarikan apa yang menjadi bagian dari identitas Depok melalui Kaoem Depok yang sampai saat ini masih dirawat dan dijaga di YLCC.

Acara yang dipandu oleh MC Mercy Lona itu diwarnai dengan peragaan busana batik sarita yang berarti “Kain yang Bercerita” dari Toraja karya designer Dewi Trisna dan kain kebaya Dijlady.

Hadir dalam kesempatan tersebut, Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kota Depok, Lita Nurhidayah, Pemangku Sejarah Kaoem Depok Boy Loen, jajaran pengurus PBI Pusat, perwakilan organisasi SWI Depok, perwakilan Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya dan Pariwisata (Disporyata) Kota Depok, dan berbagai organisasi perempuan di Kota Depok.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *