Keren! SDN Limo 3 Bikin “Pasar Numerasi”, Siswa Jualan dari Sampah Daur Ulang

Upaya Peningkatan Numerasi Siswa Sekaligus Penanam Peduli Lingkungan melalui Daur Ulang Sampah

Pendidikan1635 Dilihat
banner 468x60

DEPOKHITS.id – Ada yang beda di halaman SDN Limo 3, Rabu (26/2/2026). Bukan sekadar belajar di kelas, siswa Fase B (Kelas III dan IV) justru sibuk buka lapak, hitung uang, sampai kasih kembalian. Yup, sekolah ini menggelar program unik bertajuk Pasar Numerasi yang langsung bikin suasana jadi heboh dan seru!

Bukan pasar biasa, lho. Semua produk yang dijual hasil karya siswa dari sampah daur ulang. Mulai dari botol plastik, kardus, kertas bekas, sampai kemasan minuman yang sebelumnya tak terpakai, disulap jadi barang bernilai jual.

Kepala sekolah, Dr. Triningsih, menjelaskan kegiatan ini bukan sekadar seru-seruan. Menurutnya, Pasar Numerasi adalah pembelajaran kontekstual yang bikin matematika terasa nyata.

“Anak-anak bukan cuma belajar berhitung. Mereka belajar berpikir kritis, logis, memecahkan masalah, sekaligus peduli lingkungan,” ujarnya.

Sekolah Disulap Jadi Pasar Mini

Sejak pagi, halaman sekolah berubah total jadi pasar mini. Tiap kelompok siswa membuka stan dengan konsep sederhana. Ada yang jual pot tanaman dari botol bekas, tempat pensil dari kardus, hiasan cantik dari kertas bekas, hingga paket bahan daur ulang siap kreasi.

Baca Juga  Depok Kondusif, Sekolah Negeri Berjalan Normal

Yang bikin makin menarik, transaksi dilakukan pakai sistem uang sungguhan. Para siswa belajar menentukan harga, menghitung total belanja, memberikan kembalian, sampai mencatat hasil penjualan.

Guru hanya bertindak sebagai fasilitator. Selebihnya? Anak-anak yang pegang kendali!

Suasana makin ramai karena warga sekolah ikut jadi pembeli. Tawa, tawar-menawar, dan hitung-hitungan cepat terdengar di setiap sudut stan.

Numerasi + Karakter + Cinta Lingkungan

Program ini juga jadi bagian dari pembelajaran berbasis proyek yang menekankan penguatan profil lulusan, khususnya pada dimensi gotong royong, kreativitas, kemandirian, dan nalar kritis.

Koordinator kegiatan menyebutkan, konsep ini sengaja dirancang agar siswa paham bahwa matematika bukan hanya angka di buku, tapi keterampilan hidup yang dipakai setiap hari.

Lebih dari itu, kesadaran pengelolaan sampah ditanamkan sejak dini. Anak-anak belajar memilah, membersihkan, hingga mengolah sampah jadi produk bernilai ekonomi.

Depok Butuh Lebih Banyak Sekolah Kreatif Seperti Ini

Inovasi seperti ini patut diapresiasi. Di tengah tantangan literasi dan numerasi, SDN Limo 3 justru memilih cara kreatif: belajar sambil praktik langsung.

Baca Juga  Amanda Adiva Syahla: Putri Depok Menuju Panggung Diplomasi Internasional

Hasilnya? Anak-anak lebih antusias, percaya diri, dan mulai memahami konsep uang, nilai barang, hingga tanggung jawab menjaga lingkungan.

Kalau model pembelajaran seperti ini terus dikembangkan, bukan tidak mungkin sekolah-sekolah di Depok bisa jadi pionir pendidikan kreatif yang relevan dengan kehidupan nyata.

Salut buat SDN Limo 3. Numerasi jalan, karakter tumbuh, lingkungan pun terjaga.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *